Saturday, August 29, 2009

Adolf Hitler Meninggal di Indonesia (Part 2) ?

Sambungan dari edisi pertama, berikut adalah bagian terakhirnya.

“Beberapa alinea dalam tulisan itu membuat jantung saya berdetak keras, seperti menyadarkan saya kembali. Sebab di situ ada ciri-ciri Hitler yang juga saya temukan pada diri si dokter tua Jerman. Apalagi setelah saya membaca buku biografi ‘Hitler’. Semuanya ada kesamaan,” ungkap ayah empat anak ini.

Heinz Linge menulis, “beberapa orang di Jerman mengetahui bahwa Führer sejak saat itu kalau berjalan maka dia menyeret kakinya, yaitu kaki kiri. Penglihatannya pun sudah mulai kurang terang serta rambutnya hampir sama sekali tidak tumbuh... kemudian, ketika perang semakin menghebat dan Jerman mulai terdesak, Hitler menderita kejang urat.”

Linge melanjutkan, “di samping itu, tangan kirinya pun mulai gemetar pada waktu kira-kira pertempuran di Stalingrad (1942-1943) yang tidak membawa keberuntungan bagi bangsa Jerman, dan ia mendapat kesukaran untuk mengatasi tangannya yang gemetar itu.” Pada akhir artikel, Linge menulis, “tetapi aku bersyukur bahwa mayat dan kuburan Hitler tidak pernah ditemukan.”

Lalu Sosro mengenang kembali beberapa dialog dia dengan “Hitler”, saat Sosro berkunjung ke rumah dr. Poch. Saat ditanya tentang pemerintahan Hitler, kata Sosro, dokter tua itu memujinya. Demikian pula dia menganggap bahwa tidak ada apa-apa di kamp Auschwitz, tempat ‘pembantaian’ orang-orang Yahudi yang terkenal karena banyak film propaganda Amerika yang menyebutkannya.

“Ketika saya tanya tentang kematian Hitler, dia menjawab bahwa dia tidak tahu sebab pada waktu itu seluruh kota Berlin dalam keadaan kacau balau, dan setiap orang berusaha untuk lari menyelamatkan diri masing-masing,” tutur Sosrohusodo.

Di sela-sela obrolan, dr. Poch mengeluh tentang tangannya yang gemetar. Kemudian Sosro memeriksa saraf ulnarisnya. Ternyata tidak ada kelainan, demikian pula tenggorokannya. Ketika itu, ia berkesimpulan bahwa kemungkinan “Hitler” hanya menderita parkisonisme saja, melihat usianya yang sudah lanjut.

Yang membuat Sosro terkejut, dugaannya bahwa sang dokter mungkin terkena trauma psikis ternyata diiyakan oleh dr. Poch! Ketika disusul dengan pertanyaan sejak kapan penyakit itu bersarang, Poch malah bertanya kepada istrinya dalam bahasa Jerman.

“Itu kan terjadi sewaktu tentara Jerman kalah perang di Moskow. Ketika itu Goebbels memberi tahu kamu, dan kamu memukul-mukul meja,” ucap istrinya seperti ditirukan oleh Sosro. Apakah yang dimaksud dengan Goebbels adalah Joseph Goebbels, Menteri Propaganda Jerman yang terkenal setia dan dekat dengan Hitler? Istrinya juga beberapa kali memanggil dr. Poch dengan sebutan “Dolf”, yang mungkin merupakan kependekan dari Adolf!

Setelah memperoleh cemoohan sana-sini sehubungan dengan artikelnya, tekad Sosrohusodo untuk menuntaskan masalah ini semakin menggebu. Ia mengaku bahwa kemudian memperoleh informasi dari pulau Sumbawa Besar bahwa Poch sudah meninggal di Surabaya. Beberapa waktu sebelum meninggal, istrinya pulang ke Jerman. Poch sendiri konon menikah lagi dengan nyonya S, wanita Sunda asal Bandung, karyawan di kantor pemerintahan di pulau Sumbawa Besar!

Untuk menemukan alamat nyonya S yang sudah kembali lagi ke Bandung, Sosro mengakui bukanlah hal yang mudah. Namun akhirnya ada juga orang yang memberitahu. Ternyata, ia tinggal di kawasan Babakan Ciamis! Semula nyonya S tidak begitu terbuka tentang persoalan ini. Namun karena terus dibujuk, sedikit demi sedikit mau juga nyonya S berterus terang.

Begitu juga dengan dokumen-dokumen tertulis peninggalan suaminya kemudian diserahkan kepada Sosrohusodo, termasuk foto saat pernikahan mereka, plus rebewes (SIM) milik dr. Poch yang ada cap jempolnya. Dari nyonya S diketahui bahwa dr. Poch meninggal tanggal 15 Januari 1970 pukul 19.30 pada usia 81 tahun di Rumah Sakit Karang Menjangan Surabaya akibat serangan jantung. Keesokan harinya dia dimakamkan di desa Ngagel.

Dalam salah satu dokumen tertulis, diakuinya bahwa ada yang amat menarik dan mendukung keyakinannya selama ini. Pada buku catatan ukuran saku yang sudah lusuh itu, terdapat alamat ratusan orang-orang asing yang tinggal di berbagai negara di dunia, juga coretan-coretan yang sulit dibaca. Di bagian lainnya, terdapat tulisan steno. Semuanya berbahasa Jerman. Meskipun tidak ada nama yang menunjukkan kepemilikan, tapi diyakini kalau buku itu milik suami nyonya S.

Di sampul dalam terdapat kode J.R. KepaD no.35637 dan 35638, dengan masing-masing nomor itu ditandai dengan lambang biologis laki-laki dan wanita. “Jadi kemungkinan besar, buku itu milik kedua orang tersebut, yang saya yakini sebagai Hitler dan Eva Braun,” tegasnya dengan suara yang agak parau.

Negara yang tertulis pada alamat ratusan orang itu antara lain Pakistan, Tibet, Argentina, Afrika Selatan, dan Italia. Salah satu halamannya ada tulisan yang kalau diterjemahkan berarti : Organisasi Pelarian. Tuan Oppenheim pengganti nyonya Krüger. Roma, Jl. Sardegna 79a/1. Ongkos-ongkos untuk perjalanan ke Amerika Selatan (Argentina).

Lalu, ada pula satu nama dalam buku saku tersebut yang sering disebut-sebut dalam sejarah pelarian orang-orang Nazi, yaitu Prof. Dr. Draganowitch, atau ditulis pula Draganovic. Di bawah nama Draganovic tertulis Delegation Argentina da imigration Europa – Genua val albaro 38. secara terpisah di bawahnya lagi tertera tulisan Vatikan. Di halaman lain disebutkan, Draganovic Kroasia, Roma via Tomacelli 132.

Majalah Intisari terbitan bulan Oktober 1983, ketika membahas Klaus Barbie alias Klaus Altmann bekas polisi rahasia Jerman zaman Nazi, menyebutkan alamat tentang Val Albaro. Disebutkan pula bahwa Draganovic memang memiliki hubungan dekat dengan Vatikan Roma. Profesor inilah yang membantu pelarian Klaus Barbie dari Jerman ke Argentina. Pada tahun 1983 Klaus diekstradisi dari Bolivia ke Prancis, negara yang menjatuhkan hukuman mati terhadapnya pada tahun 1947.

“Masih banyak alamat dalam buku ini, yang belum seluruhnya saya ketahui relevansinya dengan gerakan Nazi. Saya juga sangat berhati-hati tentang hal ini, sebab menyangkut negara-negara lain. Saya masih harus bekerja keras menemukan semuanya. Saya yakin kalau nama-nama yang tertera dalam buku kecil ini adalah para pelarian Nazi!” tandasnya.

Mengenai tulisan steno, diakuinya kalau ia menghadapi kesulitan dalam menterjemahkannya ke dalam bahasa atau tulisan biasa. Ketika meminta bantuan ke penerbit buku steno di Jerman, diperoleh jawaban bahwa steno yang dilampirkan dalam surat itu adalah steno Jerman “kuno” sistem Gabelsberger dan sudah lebih dari 60 tahun tidak digunakan lagi sehingga sulit untuk diterjemahkan.

Tetapi penerbit berjanji akan mencarikan orang yang ahli pada steno Gabelsberger. Beberapa waktu lamanya, datang jawaban dari Jerman dengan terjemahan steno ke dalam bahasa Jerman. Sosrohusodo menterjemahkannya kembali ke dalam bahasa Indonesia. Judul catatan dalam bentuk steno itu, kurang lebih berarti “keterangan singkat tentang pengejaran perorangan oleh Sekutu dan penguasa setempat pada tahun 1946 di Salzburg”. Kota ini terdapat di Austria.

Di dalamnya berkisah tentang “kami berdua, istri saya dan saya pada tahun 1945 di Salzburg”. Tidak disebutkan siapakah ‘kami berdua’ di situ. Dua insan tersebut, kata catatan itu, dikejar-kejar antara lain oleh CIC (dinas rahasia Amerika Serikat). Pada pokoknya, menggambarkan penderitaan sepasang manusia yang dikejar-kejar oleh pihak keamanan.

Di dalamnya juga terdapat singkatan-singkatan yang ditulis oleh huruf besar, yang kalau diurut akan menunjukkan rute pelarian keduanya, yaitu B, S, G, J, B, S, R. “Cara menyingkat seperti ini merupakan kebiasaan Hitler dalam membuat catatan, seperti yang pernah saya baca dalam literatur yang lainnya,” Sosrohusodo memberikan alasan.

Dari singkatan-singkatan itu, lalu Sosro mencoba untuk mengartikannya, yang kemudian dikaitkan dengan rute pelarian. Pelarian dimulai dari B yang berarti Berlin, lalu S (Salzburg), G (Graz), J (Jugoslavia), B (Beograd), S (Sarajevo) dan R (Roma). Tentang Roma, Sosro menjelaskan bahwa itu adalah kota terakhir di Eropa yang menjadi tempat pelariannya. Setelah itu mereka keluar dari benua tersebut menuju ke suatu tempat, yang tidak lain tidak bukan adalah pulau Sumbawa Besar di Nusantara tercinta!

Ia mengutip salah satu tulisan dalam steno tadi : “Pada hari pertama di bulan Desember, kami harus pergi ke R untuk menerima suatu surat paspor, dan kemudian kami berhasil meninggalkan Eropa”. Ini, kata Sosro, sesuai dengan data pada paspor dr. Poch yang menyebutkan bahwa paspor bernomor 2624/51 diberikan di Rom (tanpa huruf akhir A)”. Di buku catatan berisi ratusan alamat itu, nama Dragonic dikaitkan dengan Roma, begitulah Sosro memberikan alasan lainnya.

Lalu mengenai Berlin dan Salzburg, diterangkannya dengan mengutip majalah Zaman edisi 14 Mei 1984. Dikatakan bahwa sejarah telah mencatat peristiwa jatuhnya pesawat yang membawa surat-surat rahasia Hitler yang jatuh di sekitar Jerman Timur pada tahun 1945. “Ini juga menunjukkan rute pelarian mereka,” katanya lagi.

Lalu bagaimana komentar nyonya S yang disebut-sebut Sosro sebagai istri kedua dr. Poch? Konon ia pernah berterus terang kepada Sosro. Suatu hari suaminya mencukur kumis mirip kumis Hitler, kemudian nyonya S mempertanyakannya, yang kemudian diiyakan bahwa dirinya adalah Hitler. “Tapi jangan bilang sama siapa-siapa,” begitu Sosro mengutip ucapan nyonya S.

Membaca dan menyimak ulasan dr. Sosrohusodo, sekilas seperti ada saling kait mengkait antara satu dengan yang lainnya. Namun masih banyak pertanyaan yang harus diajukan kepada Sosro, dengan tidak bermaksud meremehkan pendapat pribadinya berkaitan dengan Hitler, sebab mengemukakan pendapat adalah hak setiap warga negara.

Bahkan Sosrohusodo sudah membuat semacam diktat yang memaparkan pendapatnya tentang Hitler, dilengkapi dengan sejumlah foto yang didapatnya dari nyonya S. Selain itu, isinya juga mengisahkan tentang pengalaman sejak dia lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia hingga bertugas di Bima, Kupang, dan Sumbawa Besar. Ia juga telah mengajukan hasil karyanya ke berbagai pihak, namun belum ada tanggapan. “Padahal tidak ada maksud apa-apa di balik kerja saya ini, hanya ingin menunjukkan bahwa Hitler mati di Indonesia,” katanya mantap.

Bukan hanya Sosro yang mempunyai teori tentang pelarian Hitler dari Jerman ke tempat lain, tapi beberapa orang di dunia ini pernah mengungkapkannya dalam media massa. Peluang untuk berteori seperti itu memang ada, sebab ketika pemimpin Nazi tersebut diduga mati bersama Eva Braun tahun 1945, tidak ditemukan bukti utama berupa jenazah!

Adalah tugas para pakar dalam bidang ini untuk mencoba mengungkap segala sesuatunya, termasuk keabsahan dokumen yang dimiliki oleh Sosrohusodo, nyonya S, atau makam di Ngagel yang disebut sebagai tempat bersemayamnya dr. Poch.

Mungkin para ahli forensik dapat menjelaskannya lewat penelitian terhadap tulang-tulang jenazahnya. Semua itu tentu berpulang pada kemauan baik semua pihak...


Oleh : Alif Rafik Khan

40 comments:

callMeOnce said...

kalau itu bukan Hitler..
apa mungkin
1. hitler tak pernah bunuh diri
2. hitler yg bunuh diri bukan hitler asli
3. dimana Eva?

Robert said...

Kalo gw pribadi sih ga terlalu percaya kalo Hitler itu bunuh diri. Why ? Ya iyalah, secara uda banyak x percobaan pembunuhan Hitler oleh orang2 sekitarnya (nonton Valkyrie kan ?) Tapia kenyataannya hitler selalu masih selamat.. dan lagi tentunya negara2 yang sangat benci Hitler itu mau dong liat jasadnya sendiri agar puas... Menurut pemikiran gw sih, itu not Hitler, but someone mirip Hitler hehe (yang mati)

Minahasa said...

hitler ga pernah mati d indonesia, itu cuma bualan, klo emang bener dari dulu juga ud d tes dna gitu aja repot.

para penganut fasis ideologi dasar klo sudah kalah lebih baik mati bunuh diri d tangan sendiri dari pada di tangan musuh, harga diri no 1, hitler punya kekuatan di tombak ajaib yg di taruh di tengah kota di dalam gereja, nah tombak ini di ambil dia bisa di bunuh. Tombak ini tombak yg di pakai bunuh Yesus Kristus itu rahasia kekuatannya.

klo jepang terkenal dengan bunuh diri juga. beda dgn penganut kapitalis harga diri ga penting yg penting selamat.

Valhalla said...

Ada cerita menarik yang saya dapat di Discovery channels baru2 ini. Di situ di ceritakan tentang penemuan beberapa mayat yang di duga adalah Adolf Hitler, tapi ternyata bukan. Para mayat itu memiliki kemiripan fisik dan lucunya, mereka semua mati berpasangan. Apa daya, dengan keadaan muka hancur atau badan terbakar, tidak dapat di identifikasi apa benar bahwa salah satu dari mereka adalah Adolf Hitler beserta istrinya.

Yang menarik adalah yang memegang peranan penting atas identifikasi mayat2 tersebut adalah pasukan Rusia. Dan hasil identifikasi, beserta sisa2 potongan tubuh dan dokumen2 lainnya dibawa ke Rusia. Pada saat itu, Rusia yang masih Komunis hanya menyatakan bahwa mayat nomor ... (saya lupa yang mana) adalah Adolf Hitler, dan selanjutnya masyarakat dunia tidak (mungkin sulit sekali) mendapatkan akses untukk benar2 mencari tahu hasil nya.

Bukan berarti saya membenarkan, tapi hal di atas juga bisa menjadikan dasar satu kemungkinan bahwa Adolf Hitler mungkin selamat dari pengepungan. Kita tidak perlu berkeras, buktikan saja dan pasti semua terbukti. Untuk sekarang, mungkin itu masih akan jadi misteri...

pembacaygkebetulanmenemukanlinkini:) said...

artikel yang bagus...

Yauma Yulida H. said...

emangnya dulu udah ada tes dna?
kalau emang nggak percaya dia meninggal di Indonesia, kenapa lebih percaya pada tombak ajaib?

untuk pemilik blog, blog yang bagus, dan artikelnya cukup detail...

belajarseo said...

@Minahasa : soal tombak itu apakah bener2 ada ? seperti cerita Indiana Jones saja

@Valhalla : trims buat info tambahannya

@Yauma : trims sudah berkunjung..

andi said...

sepertinya gw tambah yakin dengan dr.Sosro, berita terakhir: http://www.beritajitu.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1950:tengkorak-hitler-ternyata-perempuan&catid=34:indonesia&Itemid=53 , "Tengkorak Hitler yang di bunker tempat bunuh diri, ternyata Tengkorak Perempuan", so....? makin menarik aja ya ?

Anonymous said...

bisa jadi seperti itu...thanks ya artikelnya bagus,ditunggu kelanjutanya....

KeoZ said...

ahem...artikel yang sangat menarik, ttg Hitler.

tapi ada beberapa 'kejanggalan kecil':

baca disini:

Begitu juga dengan dokumen-dokumen tertulis peninggalan suaminya kemudian diserahkan kepada Sosrohusodo, termasuk foto saat pernikahan mereka, plus rebewes (SIM) milik dr. Poch yang ada cap jempolnya.

kalo ada cap jempol di SIM Dr.Poch, maka kenapa ga dicari aja cap jempol Hitler? kalo sama kan itu udah satu jawaban yg sangat besar

toko buku online said...

artikel yang bagus
saya juga kurang yakin kalo Hittler bunuh diri.

soal tes DNA sepertinya pas perang dunia II blm ada,
sekarang tinggal cap jempol itu saja bukti yang kuat buat buktiin ini Hittler atau dr. Pouch

Anonymous said...

kayaknya keren kalo dibikin filem :-)

Robert said...

@orang di atas : kalo dibbikin film itu mgkn mirip2 Davinci Code..

@ toko buku online :
yap tes DNA belum dikenal luas pada waktu itu.. paling juga cap jempol.. ya itu jg kalo jempolnya masi utuh...

iseng-iseng ajah said...

keren broo...
mang masih ada kah dokumen2 yang dpegang sosrohusodo???...

Robert said...

bisa saja masih ada dokumen rahasianya.. bumi ini penuh dengan misteri bukan ? =)

jual kaos murah said...

tau ach gan
Kayaknya pemilik blog cari pengunjung dech

gha said...

klo memang hitler meninggal di Indonesia.. apa ada bukti mayatnya ??

Anonymous said...

d tunggu up date beritanya....kayak gini yang saya suka...misteri yang belum terpecahkan....

Anonymous said...

artikel yang sangat amat menarik..

siapa tahu itu benar adanya..

sgala kmungkinan itu pasti ada..

untuk pemilik blog, lebih bagus kiranya kalau disertai gambar.

trims.

wicks said...

kenapa nggak di telusuri tuh makam dr.poch di desa apa tuh tadi??

sapa tau masih ada yang bisa di pelajari mungkin dari tulang2 nya..

menarik banget kalo emang hitler ternyata meninggal di Indo..

Anonymous said...

nice article . !!
tp ngoomong2 rumah ane kan di SBY tepatnya (kebetulan) di ngagel, apa perlu ane obrak abrik smua kuburan di ngagel demi terpecahkan misteri ini ?

ink said...

waw...artikel yang menarik!
percaya tidak percaya tetapi artikelnya menambah pengetahuan....

Anonymous said...

kalau emang bener bapak tuh bisa diculik mosad pak, hati2 tuh mendingan disimpan saja.

tapi lumayan lah analisanya.
hail mr sosro

Anonymous said...

artikel yang oke punya, segala misteri masih mungkin dipecahkan cepat ataupun lambat.

Soal kematian sih, gue berpendapat, cuma Tuhan Yang Maha tahu.

Soal tombak? Makan tuh tombak! Zaman modern gini masih percaya yang begituan... Pliss deh!!!

Anonymous said...

OMG.... agan Minahasa terlalu banyak nonton pelem kayanya,
itu mah karang2an pak sutranya constantine.

yah selama pendapat itu masih sebagai pendapat ya kita dukung saja.

nice posting ini, suka bgt saya.

becks said...

nice posting gan.

bwt nambah pengetahuan sekaligus misteri kematian adolf hitler ...

klo pendapat saya pribadi hampir sama kaya komen agan minahasa, lebih baik bunuh diri dari pada ketangkap tentara lawan, itu paham yg dianut fasis yg kolot [nb. jerman itali dan jepang waktu itu menganut paham ini].

sedang komen agan valhalla, saya juga liat tayangan nya, dan itu yang menjadi bumbu misteri ini kan ??

Anonymous said...

apapun hasil dr misteri ini ku sangat mengahargai pendapat sosrohusodo.

Di tunggu kabar up date lagi deh...

BTW thangks atas infonya.

A.T.R.Hitler said...

Saya yakin bahwa Hitler Pemimpin para tentara Nazi yg terlatih tersebut,Tidak akan bunuh diri begitu saja.Karena dia memiliki harga diri sebagai pemimpin tentara Nazi tersebut.

Agung Satria said...

Pemusnahan bangsa Yahudi dapat kulakukan...
tapi kusisakan sedikit...
Agar kalian mengetahui...
mengapa aku membunuhnya...
Adolf Hitler

Anonymous said...

bisa jadi hitler emg meninggal d indonesia karena ciri2 dr.poch emg mirip sama adolf hitler..artikelny bgs n nambah pengetahuan..
Yg dlakukan hitler dulu(membunuh org yahudi) bru skrg "dbenarkan" oleh org2 n skrg baru tau alasan kenapa org yahudi dbunuh oleh hitler..karena bangsa yahudi derajatnya lebih rendah dari kotoran n sikap yg lebih bejat dari binatang

Anonymous said...

nice article.. klo gitu undang aja org2 di national geographic atau discovery channel atau History Channel.. mereka pasti punya metodologi yg jitu buat ngebuktiin dr poch itu hitler ato bukan.. apalagi ketirunan hitler katanya ada di austria.. tinggal tes dna kan..
klo bener, ini adalah penguakan sejarah terbesar abad 20 & 21! akan sangat menarik perhatian dunia, ttg sisa2 kehidupan sang fuhrer di tempat pelariannya.. ttg eva braun, bisa dilacak juga kpn dia pulang kampung & meninggal thn berapa dimana? gw rasa dia ke austria tuh...

kerang mutiara said...

Alasan knapa Fuhrer memilih Indonesia, krn Indonesia adl negara muslim yg anti israel/anti yahudi, sdikit bnyak sama dg anti-simit miliknya sndiri. sehingga indonesia tdk ada hub. diplomatik dg Israel (dan amerika/rusia pd wktu itu) dg demikian agak kurang kerjaan intelejen para skutu mondar-mandir di indonesia buat nyari hitler, apalagi Dolf memilih sumbawa yg jauh dari jakarta itu sngat cerdas.
selain itu, disamping iklim indonesia yg hangat dan cocok untuk kesehatannya, iklim politik di indonesia pun tak membuatnya alergi.
dan yang paling masuk akal adalah bhw kondisi indonesia yg wkt itu blm seribet ini membuatnya sangat MUDAH menyelundupkan dirinya&Eva.
oya, masa kecil Dolf sangat pedih, kalo aku jadi dia aku gak akan mau mati konyol ditangan sndiri...
Yang Dolf cari adalah pmbalasan kepahitan masa kecilnya, jadi jika semua cara di eropa sudah gagal. Ia tak akan mau mati sebelum menggapai impiannya untuk hidup tenang, cerdas sekali ia menemukan Indonesia... konon istri keduanya bahkan mengajak Gi, panggilan akrab S. untuk dr.Poch (alias Dolf/Adolf Hitler) memeluk islam, dan Gi meninggal dalam keadaan muslim. seperti misteri masa kecil Einstein, Dolf kecil konon pernah mendapat pesan dari Ibunya, "Jika nanti kau ingin memeluk agama, maka pilihlah agama Islam."

Wallahu'alam.

ernest said...

wah...dunia ternyata menarik untuk kita telusuri,semakin penasaran

Anonymous said...

Kalau mau test dna atau sidik jari sebenernya bisa aja di jaman sekarang. Cuma yang jadi masalah adalah untuk cari pembandingnya. Apa ada orang yang punya sampel dna/sidik jari nya hitler yang bisa dijamin keasliannya?

Anonymous said...

saya orang sumbawa, dan pernah menanyakan tentang sosok dr. Poch ini pada bapak teman saya yg kebetulan bapaknya(kakeknya tman saya) sangat dekat dgn dr.poch,dia seorang bangsawan dan jg wartawan pada saat itu... dari ciri2 fisik yg disampaikan oleh dr. sosro itu ternyata benar.... :)oya tambah satu dr.poch juga dikenal tempramental...

wancek poenya said...

gilaaaaaaaaa
nice artikel
gw suka nih
kl bisa sih di pastiin lagi
bener gaknya itu adolf hitler
zaman kan makin maju
pasti bisa lah menemukan bukti2 kl dernanya dr. Poch itu adalah sang "ADOLF HILER"

aqeela said...

mantap...hitler forever
the greatest orators all of the time
the most phenomenal person

Anonymous said...

sayang,,,hitler gak ngabisin yahudi sekalian.. biar warga palestin gak semenderita sekarang... dasar yahudi bejatt....

Ara said...

great article....
Hitler buried in Indonesia? Uda ngebayang judul filem yg bisa dibikin bagus daripada sekedar filem horor-ga jelas..
Anyway, memang tes dna baru dikenal yhn 70-an bukan? jadi ga bisa dicek dna-x atuh..karena ga ada database dna sebelumnya. kabar terakhir memang tengkorak yang diklaim sebelumnya senagai tengkorak hitler kan ternyata tengkorak wanita, makanya secara langsung membuktikan bahwa hitler "hilang" (tidak ditemukan dari bunker miliknya = tidak bunuh diri) masalah apakah benar dr Poch itu hitler adalah hal yg lain. Cm perlu penelitian lebih lanjut... buat pembaca yang bisa melengkapi apakah dari Sumbawa ato lainnya mohon di-share link ato info lainnya....

Anonymous said...

http://abusirr.blogspot.com/2011/03/misteri-kematian-hitler.html