Tuesday, February 2, 2010

Tuhan Pun 'Ada' di Dalam Bis

Saya belajar naik bis(angkot) pertama kali sekitar kelas 1 SMA. Rute terjauh pada waktu itu ialah Kuningan, Jakarta Selatan. Pada waktu itu Kuningan rasanya begitu jauh dari tempat tinggal saya (ibadah ke JPCC di Kuningan sebelum dibom). Entah sudah berapa banyak tempat yang saya kunjungi & rute perjalanan yang dihapal dengan menggunakan bis selama 7 tahun ini, bahkan ke tempat kerja pun masih naik bis (bukan Transjakarta). Entah mengapa saya lebih suka naik bis yang Non-AC alias bis kota tok..

Kebetulan dari semua bis yang saya naiki, ada beberapa yang dapat digolongkan menjadi kendaraan ramai & padat penumpang seperti Patas 213 yang saya pakai untuk pergi ke tempat kerja. Pada jam-jam berangkat & pulang kerja, bis 213 ini dapat mengangkut hingga 3x lipat kapasitas yang seharusnya. Bisa dibayangkan bagaimana suasana di dalam bis tersebut : padat, sesak, pengap & berhimpitan. Terkadang asap rokok & bau badan menjadi penghias utama di dalam ruang bis.

Kalau kita lagi 'beruntung', maka kita akan mendapatkan bangku/kursi kosong untuk duduk. Seringkali saya cukup 'beruntung' karena sering dapat bangku kosong (pas pergi kerja dari Grogol). Bis 213 mulai terisi padat ketika lepas landas dari Grogol : jadi untuk mereka yang naik di Slipi dan seterusnya "siap-siap aja berdiri dan berdempet-dempetan ala ikan asin wekeke". Jalur rute 213 adalah jalur macet & padat kendaraan karena ia melalui rute-rute strategis orang kerja.

Bangku Kosong, sesuatu yang dicari penumpang ketika pertama kali menginjakkan kaki di dalam bis mau itu anak kecil ato orang lansia. Pintu masuk Bis yang sekecil itu menjadi ajang serobotan dan perebutan tiket bangku kosong yang 'mungkin' tersedia di dalam bis. Tak jarang ada perempuan yang teriak dengan emosi karena kakinya terinjak, ada pula yang terdorong hingga jatuh, ada pula yang sendalnya copot gara-gara nyangkut dan tidak jarang mereka yang lanjut usia (lansia) & perempuan adalah orang yang terakhir masuk ke bis karena 'pergumulan' yang berat ini.

Jadi bukanlah suatu hal yang mengherankan apabila bangku kosong itu sedemikian berharga di dalam suatu bis. Semakin padat muatan bisnya, semakin 'mahal' & berat perjuangan mendapatkan bangku kosong tersebut. Bukan suatu hal yang mengherankan pula ketika melihat ada orang-orang lansia atau ibu yang sedang hamil berdiri di samping anak muda yang sedang duduk & bahkan bisa tidur di bis. Ini hal yang lumrah buat mereka yang sering naik bis besar seperti 213 ini. SIAPA CEPAT DIA DAPAT.

Di dalam bis, banyak sekali orang yang merokok & mengepulkan asapnya dengan sepuasnya. Tidak ada yang berani menegur pula : karena ini sudah jadi kebiasaan tersendiri. Orang-orang hanya berani mengerutu di dalam hatinya sambil berharap agar orang perokok ini cepat turun ato pindah tempat.. Ini semakin diperparah dengan kondisi bis yang terkadang suka bocor atapnya ketika hujan turun Sehingga tak jarang bangku yang harusnya bisa diisi 2 orang hanya terisi 1 saja karena yang sebelahnya bocor kena air hujan.. Benar-benar kondisi yang memprihatinkan..

Tidak banyak orang yang mau berdiri dan memberikan bangkunya pada orang yang lebih membutuhkan seperti lansia/wanita hamil. Kebanyakan bersifat individualistis : gw gw, loe loe. Namun diantara sekian banyak orang yang seperti itu ada 3 orang yang ternyata bersikap berlawanan dengan apa yang 'lazim' pada umumnya.

Orang pertama ialah seorang gadis muda sekitar 20-an tahun yang naik di saat bus sudah padat-padatnya. Apa yang dilakukannya waktu itu cukup mencengangkan saya. Pada waktu itu nampaknya sang kernet lupa menagih ongkos bis padanya. Akhirnya ketika dia sudah sampai di tempat tujuan, dia tidak segera turun begitu saja - melainkan bergerak dari posisi pintu belakang bus menerobos desakan manusia di tengah-tengah bis untuk bisa memberikan 2.000 kepada sang kernet yang ada di posisi dekat pintu masuk depan. Suatu pemandangan yang mengherankan ketika melihatnya berteriak memanggil sang bapak kernet 'HANYA' untuk memberikan Rp.2000 itu sambil berdesak-desakan & dengan resiko bahwa ia mungkin akan harus berjalan jauh karena bis tersebut sudah melewati posisi dimana ia ingin turun tadi. Aneh ? Memang aneh untuk sebagian kami yang duduk maupun berdiri di dalam bis itu. Mungkin ada yang berpikir : "Ya sudahlah, cuma Rp. 2000 ini toh dia ga akan merugi banget kok" atau "Anggap aja ini rejeki dari Tuhan" tapi sayangnya kedua pikiran tersebut nampaknya tidak diwujudkan dalam tindakan. Saya pikir orang seperti ini sangat jarang sekali ditemui dalam kehidupan transportasi massal di Jakarta dan saya kemudian tersadar bahwa jika Yesus masih menginjakkan kakinya di dunia ini, PASTI ia akan melakukan hal yang ANEH seperti yang gadis muda ini lakukan. Memberikan pada orang lain apa yang menjadi haknya.

Orang kedua ialah seorang pemuda ,pekerja kantoran nampaknya, sekitar umur 20-an tahun yang saya jumpai ketika perjalanan pulang ke rumah. Saya pikir ia cukup beruntung karena ketika naik bus masih ada beberapa bangku yang kosong dan seperti biasa bis 213 akan segera penuh ketika sudah sampai halte Tosari. Seorang ibu-ibu masuk dan karena tidak mendapatkan bangku lagi, ia berdiri disebelah pemuda tersebut. Tanpa berpikir panjang, ia segera berdiri mempersilahkan sang ibu tadi untuk duduk di bangkunya. "Baiklah, ini wajar secara ibu-ibu uda separuh baya", pikir saya. Bis semakin sesak oleh penumpang yg naik di halte-halte berikutnya. Ternyata sang ibu-ibu tadi turun tidak lama setelah itu dan pemuda itu kembali duduk di kursi yang menjadi haknya. Belum ada semenit ia duduk, ia kembali bangkit & mempersilahkan seorang gadis muda : BAYANGKAN gadis muda: untuk duduk di bangkunya sementara ia kembali berdiri & berdesak-desakan seperti ikan pepes di dalam bis itu. Ia terdorong hingga ke bagian belakang bus, sambil berjuang untuk tetap berdiri & berpegangan kuat di tengah-tengah tumpukan muatan bis 213 yang sudah mencapai 2x lipat dari muatan seharusnya - bisa dibayangkan kondisi panas,pengap,sesak,bau badan,sumpek menjadi satu. Saya pikir pemuda ini harusnya 'kapok' dengan kondisi seperti ini - konsekuensi dari apa yang ia lakukan. Tapi saya salah. Salah besar. Kembali saya melihat ia TIDAK MENGGUNAKAN kesempatannya untuk segera duduk di bangku yang baru saja ditinggali penghuninya tersebut MALAHAN ia mempersilahkan seorang bapak tua yang sepertinya sudah cukup renta tersebut. Nampaknya ini bukan pemandangan yang umum & wajar untuk sebagian besar dari penumpang bis tersebut termasuk saya sendiri. Ya, bagi diri saya sendiri yang terkadang suka cuek & tidak berani berkorban memberikan bangku saya kepada orang yang lebih membutuhkan bangku tersebut. Kejadian hari itu, sore itu kembali menyadarkan saya akan perintah hukum kasih kedua : "kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri". Bagaimana mau mengasihi sesama, lha wong memberikan bangku pada orang lansia / ibu hamil aja ga mau -- bohong banget toh. Seandainya Yesus masih ada di dunia ini, PASTI Ia akan melakukan hal yang sama seperti pemuda tadi..

Orang ketiga yang pernah saya jumpai & saya pikir ia seorang manusia yang langka ini berprofesi sebagai kernet bis metromini B91 yang biasa saya naik ketika ingin berangkat ato pulang dari kampus Binus. Untuk kernet ini, saya tidak perlu menceritakan panjang lebar apa yang sudah dilakukannya karena sudah ada porsinya sendiri di sini.

Menggunakan angkot/kendaraan umum bukan berarti seenak jidat kita. Naik dimana aja & turun dimana aja sehingga bikin macet jalanan. Bukan pula seenaknya saja menyalakan api rokok sambil menikmatinya di tengah-tengah kerumunan orang-orang yang kebanyakan tidak merokok. Bukan pula berarti tidak membayar ongkos jika tidak ditagih / malah pura-pura tidur ketika ditagih (anggap rejeki tok ?!!?). Bukan berarti prinsip SIAPA CEPAT DIA DAPAT bisa diterapkan untuk perebutan bangku tempat duduk. Ada etika dalam menggunakan transportasi umum. Ada rasa kebersamaan & solidaritas yang tidak dapat dipisahkan & seharusnya ada perasaan tenggang rasa antar penggunanya bukan egoistis & cuek.

Saya tidak tahu apakah ketiga orang tersebut ialah orang yang taat beragama & rajin berdoa atau tidak. Saya juga tidak tahu apakah mereka tergolong orang yang rajin mengunjungi rumah ibadah & merenungi kitab suci agamanya. Yang saya tahu, ketiga orang ini memberikan contoh & teladan yang mungkin untuk sebagian dari kita menggangapnya hal yang aneh & 'kok bisa gitu loh'. Contoh & teladan yang juga akan dilakukan Yesus sekiranya Ia masih menginjakkan kakiNya di bumi ini. Ketiga orang ini ialah tokoh inspirasi untuk saya dalam menggunakan transportasi umum. Semoga saya bisa meneladani orang-orang ini dahulu sebelum meneladani Yesus yang saya percayai..

16 comments:

Anonymous said...

wuihhh.. kykna artikel ini byk promosi ttg bis 213 deh.. hahaha..

sayang sekali diartikel ini, saya tdk mendptkan kesaksian dr si penulis.. pertama kali saya baca judul artikelna ckp menarik, tp saran saya mungkin artikel ini akan 'lebih menjadi berkat' kalo si penulis jg mencoba u/berbagi bgmn selama ia berada didalam perjalanan :d

Robert said...

Wahai sang perempuan, tolong gunakan nama/ID jika ingin mengutarakan pendapatnya. Ini adalah bentuk etika komunikasi. hehe..

Ida said...

Itu cowok gentleman banget.. hehehe..
Bahasa untuk postingan ini i likes :D

moga2 bisa sama2 diaplikasikan :)

Anonymous said...

ayooo tebakkkk.. ni ce or co?? :p

olive said...

Gue salah satu 'anak' 213 :D

Banyak kejadian yang sering bikin gue pengen ngasih tempat duduk, apalagi kalo liat ibu ibu yang bawa anak.
Tapi klo gue duduk di belakang dan ibu ybs nun jauh di depan, gue mikir - mikir juga, gmn mau ngasih tempat duduknya?
Klo udah gitu, feeling guilty is something I have to carry until the next day (krn gue short term memory, ga lama kmudian lupa deh :p hihihi)

Sebenarnya ini masalah pilihan, gue selalu berusaha untuk inget, waktu lo diberi kesempatan untuk berbuat baik, tapi lo ga melakukannya, itu adalah sebuah dosa

eh, tapi don't mind me.
gue biasanya cuma pinter ngomong doang, prakteknya jarang.
gyahyahaha XD

Robert said...

@anonymous : ehm sepertinya kamu perempuan sih kalau ditinjau dari segi penulisannya..

@olive :terima kasih untuk sharingnya. terkadang berat juga sih mengalahkan ego diri sendiri. Btw jangan2 kita pernah ketemu di 213 >,<

olive said...

heh??
masa???
remind me.

eh, eh, tapi lo di lantai berapa ya?
gue tuh short term memory, apalagi pas hari pertama mesti kenalan ama orang orang dari 6 lantai, jadi..gue sebenarya ga inget XP
maaaff..:D

Robert said...

loh.. jadi ini Olive the secretary toh ? kirain orang lain..

waktu itu kita pernah ketemu di 213 tapi kyknya u ga 'ngeh' pas disapa hehe..

anyway I am on the first floor

olive said...

haha.
What the hell is 'olive the secretary'?
:p

serius?
lo nyapa dan gue ga ngeh?
waduh.
sombong banget sih yang namanya olive. kelewatan.
XD


Oh. the first one. I rarely saw anyone from there :p
I'm on the third :)
going to the fifth soon.

I'm sorry for didn't recognize you the previous day, anyways.
no hard feelings, please :)

please remind me if we meet near the elevator or somewhere else, okay. because I might thought you are one of the 'so-many-that-I-couldn't-count-them' engineers :p

Robert said...

I mean "Olive-The-Wanna-Be-Secretary" hehe...

There's no hard feeling since the situation was so crowded.

Well, I will remind you or at least greet u. FYI, there're not more-than-your-toes-and-fingers engineers on the first floor.

anyway do you have blog or website ? maybe we can share each other

liph said...

unfortunately, nope.
just some blogs that I made in..well...pre-historic era.
:p

they contain embarassing things and wacky moments.
and d'oh, the most fantastic one is fact that I was so alay in those blogs XD

uh, I think I just remember, you were the 'oracle shirt' guy, weren't you?
I mean, you were wearing an oracle shirt when I met you in the bus?

because I saw someone in that shirt, but I'm not sure he's one of my colleague :)

Robert said...

embarassing things could be experimental things for the readers. The most important in writing blog is not its language, type or design BUT its content : natural, fact & be-your-self hehe..

sometimes I wear Oracle jacket not shirt and I doubt that it's kind of shirt.

anyway how is your way-back today ? Feel tired for standing up along the way or something else ? :p

liph said...

and..you didn't answer my curiousity at all :)

I was standing up, but that's not much different from the other day.
sometimes I just get lucky if there is an available seat :D

don't tell me that we were in the same bus today?

P.S. jadi inget, jadi inget ! abang nya tadi nyebelin, gue disuruh geser ke dalem padahal tinggal ngesot beberapa belas meter lagi gue udah mesti turun. Euwh :<

Robert said...

Ehm, as what u thought. We were in same bus today, But you're next to the driver and I was sitting behind calmly & sleepy hehe...

anyway laen x jangan berdiri di dekat pintu masuk, sis. Kasihan yg mau masuk ud rebutan malah macet lagi hehe.. kapan2 deh gw share tips ber-213 yang baik & santun..

Biasa tengo ato lewat 30 sis ? jarang berpapasan soalnya

btw kok jadi ajang chat panjang aneh gini ya ini comment-comment, sambung pake email kantor aja x ya

olivia said...

jarang tenggo sih, most of the time pulang jam 5 lewat.

iya nih, maaf ya sudah menodai blog lo dengan kebawelan gue...:p

Robert said...

Olive : cek email sis u deh ... ada sesuatu kayaknya..