Saturday, January 21, 2012

Innalilahi wainna ilahi rojiun - dari debu kembali ke debu

Jumat, 20 Januari 2012

Malam ini, barusan, sebuah sms masuk di inbox HP saya. Sekilas terlihat isinya "Innalilahi wainna ilahi rojiun". Segera saya buka dan baca isinya dengan seksama :
Innalilahi wainna ilahi rojiun. Telah berpulang ke rahmatullah. Ayah handa dari andi noviansyah, dba-sis di indosat jam 23.30 hari ini.
 Kaget. Ga percaya. Barusan kemarin sore Andi cerita kalau Ayahnya tiba-tiba mengeluhkan sakit, yang setelah dilihat lebih jauh tampak pembengkakan pada organ Livernya. Rencananya hari ini ia ingin menemani sang ayah memeriksa kondisinya lebih lanjut. Itu percakapan terakhir yang kami bicarakan. Tidak ada lagi. Hingga sebuah sms masuk, berisi pesan di atas.

Saya tahu dia pasti terpukul. Sang ayah merupakan sosok yang dikaguminya. Teladan dan nasehat yang diberikannya seringkali ia ucapkan ketika kami ngobrol bersama. Tampak hubungan mereka begitu akrab. Sebuah sms langsung saya kirim ke nomor HPnya. Sebuah sms tanda belasungkawa. Sebuah sms tanda simpati, tanpa kata-kata yang berisi basa-basi.

Kembali saya berpikir,

Betapa hidup itu begitu singkat dan cepat. Sering kita mendengar atau membaca di koran / media lainnya, anak yang "baru" berumur 1 bulan dan belum dapat membedakan mana yang salah dan tidak, dipanggil Yang Kuasa. Melalui kejadian seperti ini, kita belajar bahwa kematian menghampiri setiap makhluk hidup, tak terkecuali kita, manusia, tanpa pandang usia, derajat dan martabat. Kita tidak tahu kapan sang maut datang dan berbisik di telinga kita.

Kita tidak pernah tahu kapan orang-orang yang kita kasihi dipanggil oleh Ia yang Maha Kasih. Selagi mereka masih ada, kita sering 'melupakan' mereka dan asik dengan teman-teman yang baru kita kenal. Lupa kita kalau mereka pun memiliki usia. Sering kita baru menyesal ketika mereka satu per satu 'pergi' meninggalkan kita dan takkan kembali. Kita baru memberikan hadiah yang terbaik, makam dan nisan yang termewah, menangisi mereka dengan sungguh-sungguh. Namun apa daya, semua sudah telat.

Banyak yang suka lupa kalau ia itu manusia, sang makhluk nan fana. Perkara mati masuk sorga atau mati masuk neraka itu urusan kedua. Yang penting hidup ini hanya sekali, jangan disia-siakan. Hidup seenaknya, muda kaya raya, tua sejahtera, mati masuk sorga. Perkara taubat itu nanti, kalau sudah mau mendekati ajal atau sakaratul maut. Lupa kita kalau mati itu urusan Di Atas, waktunya Di Atas dan seizin yang Di Atas. Lupa kita kalau Visa dan Mastercard tak bisa membeli detik-detik sakaratul maut tersebut.

Pada akhirnya setiap kita yang dianugrahi hidup pun harus bertanggungjawab pada si Pemberi Anugrah itu. Live your life to the fullest, kalo kata pepatah.  Jangan sampai terlambat. Jangan sampai menjadi orang bodoh yang kerjanya menyesal dan menyesal. Jangan sampai lupa diri. Innalilahi wainna ilahi rojiun - dari debu kembali ke debu. 
Dari kematian kita belajar makna dari sebuah kehidupan. Dari keterpisahan kita belajar pentingnya memiliki. Seandainya sang malaikat maut bisa berbisik ...